Membicarakan kesuksesan seluruh media sosial didalam menjangkau setiap penggunanya rasanya tidak ada habisnya. Sebagai satu dari sekian banyak media sosial dengan pemakai terbanyak sekarang ini, Twitter selalu menerapkan beraneka langkah inovatif yang menyokong perkembangannya dari hari ke hari. Inovasi tersebut jelas tidak lepas dari sang CEO, Dick Costolo yang aktif dalam menjadikan ide-ide fresh dalam kemajuan Twitter.

Usai berhasil memimpin Twitter semenjak masih jadi media sosial yang tidak dikenal banyak orang, sekarang Dick Costolo musti merelakan ‘kursinya’ diberikan tuk generasi CEO penerus Twitter. Mengurus media sosial dengan jumlah aset lebih dari $23 milyar pasti bukan soal yang mudah. Sebab paling tidak musti ada 3 poin penting menjadi syarat kualitas sang CEO Twitter kedepannya:

CEO Twitter Wajib Lihat Bernegosiasi

Dick Costolo tak meninggalkan kursi sebagai CEO karena keputusan para dewan petinggi Twitter yang tak puas. Bahkan Dick lebih banyak menikmati tantangan dari pihak Wall Street. Mengolah suatu perusahaan media sosial rupanya jauh lebih susah dibandingkan mengelola start up bisnis. Kadang di Twitter tak ada pihak yang mempunyai kontrol full tuk memilih arah kebijakan untuk perkembangan Twitter.

CEO Twitter selanjutnya musti lebih ahli dari Dick Costolo didalam hal bernegosiasi dengan Wall Street. Meyakinkan jika Wall Street senantiasa mempunyai keuntungan maksimal di tiap kuartal sekaligus pengembangan produk-produk Twitter dan kesejahteraan staf bakal jadi suatu fokus yang cukup kompleks.

Dalam hal ini, pengalaman mengelola perusahaan publik, memonitor data keuangan dan memenuhi panggilan triwulan merupakan tantangan besar untuk sang CEO Twitter yang baru.

Mahir Membenahi Pendapatan dan Produk Twitter

Dikenal sebagai perusahan publik yang sangat besar, Twitter sebetulnya dapat mempunyai kestabilan bisnis dalam bidang teknologi. Tetapi sayangnya sekarang ini bisnis Twitter justru mendapati kendala yang lumayan besar. Semenjak sahamnya anjlok drastis mengingat pendapatan yang turun, Twitter menanti langkah service yang efektif untuk membalikan kejayaannya di masa yang akan datang.

Perkembangan pengguna Twitter kerap terjadi dengan cepat. Namun pertumbuhan itu ternyata tidak diiringi dengan perkembangan bisnis. Hal-hal yang dibuat Twitter pun dikenal tak terlalu bisa mempertahankan para penggunanya tuk selalu memakai Twitter.

Jelas saja Twitter perlu service dalam hal visi dan segala komponen di dalamnya agar dapat beroperasi menjadi media sosial yang lagi prima di masa yang akan datang. Service secara berkesinambungan tersebut jadi tanggung jawab CEO yang akan lekas mereplace posisi Dick Costolo.

Inovasi di Bidang Bakat Baru Serta Ide yang Kreatif

Perlu bakat yang baru dan orisinil didalam menyukseskan lanjutan perusahaan publik. Dan hal itu mulai merangkak dari Twitter semenjak ditinggalkan oleh bakat-bakat yang dikelola Rishi Garg, Jeff Sandquist , Jessica Verrilli, dan sejumlah orang berbakat lainnya. Bukannya tidak mempunyai bakat baru yang fresh, tetapi rasanya sekarang ini Twitter telah dipenuhi orang-orang berbakat yang mempunyai segudang pengalaman.

Bila disandingkan dengan Google dan Facebook, keahlian Twitter didalam mengerjakan rekrut pekerja tengah tertinggal. Hal itu juga jadi salah satu pekerjaan berat untuk sang CEO Twitter selanjutnya. Bahwa sang CEO penerus tersebut musti mempunyai kharisma tuk merekrut bakat-bakat baru di Twitter agar perkembangan Twitter bakal berlangsung lebih dinamis dan menarik.

Memperbaiki citra Twitter dikalangan para pengguna internet dunia bukan suatu tugas yang gampang. Eksistensi semata tidak cukup demi menggali potensi Twitter menjadi salah satu perusahaan publik yang kuat dan raksasa.

Ada banyak betul kandidat besar yang ideal menempati kursi CEO Twitter. Namun tampaknya para dewan petinggi Twitter musti bekerja ekstra keras tuk menentukan seorang mana yang sangat tepat tuk posisi tersebut. Masih banyak kesempatan untuk Twitter demi memperbaiki kesalahan di masa lalu jika sekarang CEO yang mempunyai 3 kualitas tadi telah ditemukan.